
iweilepunews.com
Sumber-tim
Muara Teweh – Media sosial kembali diramaikan dengan tren baru yang disebut warganet sebagai “musim pamer dada dan aurat”, di mana sejumlah pengguna dengan sengaja mengunggah foto atau video berpakaian minim untuk menarik perhatian publik.
Fenomena ini semakin mencuat seiring meningkatnya aktivitas pengguna di berbagai platform seperti Instagram, TikTok, dan Facebook. Tak hanya memamerkan tubuh, banyak pula yang disertai dengan unggahan curhat terbuka tentang masalah pribadi, percintaan, hingga konflik keluarga.
Menurut pengamat media sosial, tren ini dipicu oleh kebutuhan akan validasi dan popularitas instan. “Banyak orang merasa dihargai ketika mendapatkan like, komentar, dan share. Konten sensasional cenderung lebih cepat viral,” ujar Dedi Pranata, pengamat digital culture.
Namun, tren tersebut menuai pro dan kontra. Sebagian netizen menilai unggahan tersebut melanggar norma kesopanan dan berpotensi memberi pengaruh buruk, khususnya bagi generasi muda.
“Sosial media seharusnya jadi tempat berbagi hal positif, bukan mempertontonkan aurat atau membuka aib pribadi,” tulis salah satu komentar warganet.
Di sisi lain, ada pula yang menganggap curhat terbuka sebagai bentuk ekspresi diri dan upaya mencari dukungan emosional.
Pihak pemerintah melalui Kominfo kembali mengingatkan masyarakat untuk bijak bermedia sosial dan tidak mengunggah konten yang melanggar etika maupun aturan yang berlaku.
Fenomena ini menjadi cerminan perubahan pola perilaku masyarakat di era digital, di mana batas privasi semakin kabur dan sensasi kerap dijadikan alat untuk mendapatkan perhatian publik.
Di konfir melelui pesan whatshap,Dr.Munawar Khalil.s.mt.st.cio E-Government kominfo Barito utara memberi tanggapan,Media sosial mengalami peluberan informasi. Saya pribadi cenderung menganggap dampak negatifnya lebih banyak dibanding positifnya. Karena rata-rata orang Indonesia (apalagi di daerah kita) nggak dibekali kemampuan kognitif memilah informasi.Lebih lanjut beliau mengatakan langkah kontrol ke depannya,Ini kerja berat dan harus kolektif. Meningkatkan literasi digital tidak mungkin hanya dibebankan pada satu institusi saja. Apalagi Kominfo.
Dimulainya ya, di pembuat kebijakan. Meningkatkan perekonomian dan pendidikan. Pendidikan berjalan baik ketika perekonomian juga baik.
Ketika keduanya baik, maka kontrol akan otomatis jalan. Termasuk memilah mana informasi yang bisa diterima, mana yang tidak. Karena literasi juga sudah baik.
Dan kominfo Barito utara mendatang akan mengadakan,Fodcast 12/02/2026,iya lansung dengan jaksa menyapa,Talk show kejaksaan,pungkas Dr.Munawar khalil.s.st.mt.cio.(julandi)iweilepunews.com





